Cari Blog Ini

Senin, 31 Mei 2010


dawet ireng
purworejo.......
Cerita Lilin
Akhirnya kupadamkan lilin yang menerangi tiap inci sudut ruang makan
karna perjamuan telah usai
yang tersisa hanyalah kenangan
yang tersisa hanyalah....
orang – orang yang telah membantuku menghabiskan makanan dalam meja, perjuangan.
kawan – kawan yang masih memberiku semangat
semangat untuk tetap makan, meski ku t’lah kekenyangan.
ada juga yang memapah, saat sayap – sayap semangatku patah oleh tanganku sendiri.
juga para generasiku yang siap untuk perjamuan selanjutnya.
karna itu, aku percaya mereka membawa dan akan menyalakn lilin yang baru...
dengan semangat baru
dengan membawa cerita perjamuan yang baru...

Minggu, 23 Mei 2010

antara memberi dan meminta....

Mereka berdua duduk di pinggir pantai pasir putih itu dengan bertelanjang kaki, sengaja, agar bisa menikmati lembutnya pasir pantai. Di samping mereka berdua ada kelapa muda yang tinggal setengah, rupanya mereka telah lama berada disana.

Setalah sekian lama menikmati pantai itu barulah laki-laki itu memulai percakapan,,
“sayang...aku mengenalmu hampir satu tahun, tapi ternyata aku belum sepenuhnya mengenal kamu”
“maksud kamu apa???”
“banyak hal yang telah kita lewati bersama, dari mulai yang paling manis hingga saling gigit di depan rumah kamu”
Gadis itu menatap dengan penuh pertanyaan di kepalanya “aku bener-bener ga ngerti maksud kamu”
“harusnya aku tau ini dari awal” sambil mengeluarkan sepucuk ucapan ulang tahun yang di tulis oleh gadis itu ntuk seseorang.

Sekilas menatap lipatan kertas usang itu, gadis itu langsung mengenai bentuk lipatan memang yang buat khusus untuk seseorang. Badannya tiba-tiba bergetar seperti ketakutan, masih teringat dengan jelas apa yang tertulis di dalamnya, tak lain ucapan ulang tahun yang diselipkan dalam perkamen itu. Tiba-tiba laki-laki itu duduk dihadapannya dan menatap gadis itu dalam-dalam. Diraihnya kedua tangan gadis itu.

“seharusnya aku mengerti bahasa tubuhmu, mengerti isyarat yang kau berikan, tapi aku dibutakan oleh fatamorgana”
Sambil melapas cincin yang diberikan olah laki-laki itu dari jari manis nya, pelan-pelan, perlahan “seharusnya kau memilih orang memberikan ini semua, memberikan cinta dengan tulus, bukannnya meminta, sedangkan aku, aku harus memintamu untuk memakainya, memintamu untuk mencintaiku. Perkamen yang kau berikan bersama ucapan ini bukanlah untuk ku tapi untuk dia,,”

Gadis itu merasa semua persendian dan tulang-tulangnya remuk, lemas tak berdaya, satu-satu airmatanya mulai jatuh, semakin lama semakin deras, yang ia rasakan, yang terdengar hanya riak ombak kecil yang menerpa pantai.

“kau tidak perlu memilih, aku atau dia, karna pilihanmu telah kau tetapkan, dan itu bukan aku, kamu bener, memilih orang yang dengan sukarela kamu memberikan segalanya tanpa dia harus memintanya, tak perlu kau risaukan aku, aku hanya belum menemukan orang ynag tepat untuk memakai cincin ini.”

Pantai itu berubah menjadi kesunyian....

ini nyata

aku masih saja tidak bisa terpejam
mataku seperti giganjal batang korek api di kelopaknya
tiga gelas kopi instan nampaknya tidak berpengaruh
aku mulai menjambak ramutku untuk mengurangi rasa sakit kepala
dan ternyata ini sudah berlangsung lama
hanya saja seperti mimpi panjang.....
ternyata ini nyata....

Sabtu, 22 Mei 2010

cacatan pertama

sebagai perkenalan saja,.....
tinngi 163 cm
berat 55 kg....
hobby nulis dan olah raga...
ngopi ngegame juga suka sih....
tunggu aja kumcer ku disini...
kumpulan puisi juga bakal ada.....